BAB III PENGELOMPOKAN BARANG DAGANG (PRODUCT GROUPINGS)

I. Kegiatan PBD (Merchandiser)

MD atau Merchandiser Display adalah salah satu bagian dari team promosi yang bertugas mendisplay atau memajang produk di etalase toko dengan baik.

Produk yang tertata rapi di etalase selain sedap dipandang mata juga akan meningkatkan penjualan jika produk ditata sedemikian rupa sehingga mudah dijangkau dan ditemukan oleh pembeli.

Inilah yang melatar belakangi kenapa bagian merchandiser display(MD)  itu ada. Seringkali ketika pembeli pergi ke sebuah minimarket untuk membeli suatu produk tertentu tetapi ketika sampai disana, ia melihat pajangan produk lain yang tertata rapi maka bisa jadi keinginannya akan berubah.

Tugas Merchandiser Display  tidak hanya bertugas di modern market tetapi juga di retail, di pasar-pasar tradisional akan kita lihat pajangan shampo, deterjen, pelembut pakaian yang tertata rapi. Itu juga hasil kerja Mercandiser Display.

Selain itu tugas Merchandiser Display (MD) lainnya adalah memasang alat promosi produk seperti striker, spanduk, banner dan lain sebagainya sebagai bentuk promosi “di darat” untuk menunjang promosi produk yang telah dilakukan “di udara” lewat iklan di TV, radio atau internet.

Untuk lebih jelasnya berikut ini rincian tugas dan tanggung jawab Merchandiser display (MD) serta kualifikasi yang dibutuhkan bagi yang ingin bekerja di bidang ini:

A. Tugas dan tanggung jawab seorang Merchandiser Display (MD)

  1. Memajang, mendisplay, merapikan dan menata produk
  2. Menjaga kebersihan produk yang dipajang
  3. Menjalankan semua progam promosi perusahaan
  4. Membantu menjaga stok produk dan memperlebar shelving di etalase toko modern market/tradisional market
  5. Membuat hasil laporan yang ditentukan oleh perusahaan
  6. Menjalankan tugas kunjungan ke toko sesuai dengan rencana kerja
  7. Memberikan informasi tentang produk baru

B. Kualifikasi yang dibutuhkan untuk menjadi Merchandiser Display (MD)

  1. Pendidikan minimal SMU
  2. Memiliki kendaraan roda dua sendiri
  3. Mampu berkomunikasi dengan baik
  4. Mengetahui dan menguasai area kerja
  5. Rajin, ulet, cekatan, agresif, kreatif dan insiatif
  6. Rapih dalam berpakaian dan berpenampilan

Sebagai bagian dari team promosi pabrik, MD walaupun kerja di distributor tetapi secara hirarki berada dibawah koordinasi  area supervisor Principal (pabrik). sedangkan secara pengajian biasanya dilewatkan agensi yang ditunjuk oleh perusahaan.

II. Teknik Pengaturan Display

A. Floor display
Pemajangan barang dagangan yang disusun langsung di lantai tanpa menggunakan rak apapun. Floor diplay sering kita lihat pada hypermarket, karena disana memiliki area yang luas, sehingga display barang di lantai tidak mengganggu arus barang/konsumen. Selain itu perlu diperhatikan : a) diberi alas palet agar produk paling bawah tidak rusak saat proses pembersihan lantai; b) ukuran susunan P x L x T barang yang disusun tidak lebih dari satu meter3 ; c) barang yang disusun adalah produk yang sama; d) ditempatkan di lokasi yang strategis sehingga mudah dilihat dan tidak mengganggu arus barang / konsumen; e) Menambahkan Point of Purcase yang menarik.

B. Vertical Display
Pemajangan barang dagangan secara vertikal ke atas. Jenis display ini dapat dilakukan dengan rak gondola wall/island. Aturan display ini adalah: a) barang yang disusun merupakan satu produk yang sama dengan ukuran kemasan berbeda; b) produk dengan ukuran kemasan besar diletakkan di rak selving paling bawah, dan rak selving diatasnya dengan ukuran kemasan lebih kecil; c) perhatikan komposisi warna kemasan (letakkan produk dengan hadap yang sama)

C. Wall Display
Penataan produk di rak dengan posisi menempel di dinding. Biasanya digunakan untuk produk fashion / aksesoris. Rak yang digunakan adalah Slat wall rack.

D. “Impulse Buying” Display
Display ini semacam “pameran” barang di tempat strategis, sering dilalui konsumen dan mudah terlihat, sehingga konsumen tertarik untuk membeli. Display ini biasanya diletakkan di rak end gondola atau juga rak display dekat kasir.

E. Merchandise Mix Display
Pemajangan produk dengan memanfaatkan hubungan komplementer, yaitu memajang secara berdekatan antara barang yang biasanya digunakan bersama. Misalnya spagety degan saos; kopi dengan gula; minuman dengan cemilan. Sehingga konsumen akan tertarik untuk membelinya sekaligus.

F. Cut Cases Display
Pemajangan barang dengan menumpuk tanpa mengeluarkan produk dari kemasan karton, tetapi hanya memotong setengah kemasan kartonnya sehingga produk dapat terlihat walau disusun menumpuk. Display ini biasanya digunakan untuk minuman / makanan dalam botol dan kaleng.

G. Jumble Display
Display ini dikenal juga dengan display promo. Produk dengan berbagai macam merk dan jenis ditempatkan pada rak promo, serta diletakkan di lokasi terbuka. Konsumen bebas mengaduk-aduk barang untuk memilih.

III. Pengelompokan Barang Dagangan (Product Groupings)

Klasifikasi/Pengelompokan barang dalam pemasaran
Sobat marketer ilmu kali ini tentang pengelompokan barang. barang sangat perlu sekali dikelompokan supaya memudahkan kita dan konsumen dalam mencari produk.
langsung saja yah, pengelompokan barang berdasarkan kode barang.

Contohnya : 06.03.315 maksudnya kode itu adalah 06 untuk kode departemen, 03 untuk kode counter misalnya sepatu 315 untuk kode jenis barang misalnya ardiles
contoh yang lain departemen pakain baju kemeja. ex : 02.05.512 artinya 02 adalah departemen pakaian 05 kode counternya baju. 512 adalah kemeja.
selanjutnya pengelompokan berdasarkan huruf dan angka. huruf A B C D dan angka 1 2 3 4 contohnya:
A. minuman
A.1. minuman kaleng
A.2. minunan kotak
A.3. minuman botol.
dan ada juga pengelompokan berdasar angka digit. contohnya.
1. makanan
1.1 makanan ringan
1.1.1 leo
1.1.2 lays
1.2 biskuit
1.2.1 roma
1.2.2 oreo
Sekarang kita sudah mengetahui contohnya kan..
Selanjutnya pengelompokan barang berdasarkan kegunaan sifat bentuk cara pakai daya tahan dan cara penyimpanan, pengolompokan ini adalah untuk penyimpanan dan tata letak barang sedangkan pengelompokan diatas adalah pengelompokan untuk administrasi atau pembukuan.
IV. Klasifikasi Barang

A. Apa sih klasifikasi barang?
Pernahkah Anda membeli barang dari luar negeri, atau sekedar mendapat kiriman barang dari luar negeri, jika pernah berarti anda telah melakukan impor barang. Tahukah Anda bahwa otoritas kepabeanan akan mengenakan bea masuk dan pajak dalam rangka impor atas barang yang diimpor dari luar negeri? Tahukah anda bahwa bea masuk yang harus dibayar jumlahnya dihitung berdasarkan tarif yang ditentukan oleh suatu sistem klasifikasi barang?

Secara sederhana klasifikasi barang adalah suatu daftar kelompok barang yang dibuat secara terstruktur dan sistematis, yang terdiri dari: pos, sub pos dan pos tarif. Sejak tanggal 14 Juni 1983 World Customs Organitation (WCO)meluncurkan Harmonized System (HS) yang mulai berlaku secara internasional pada tanggal 1 Januari 1988. HS adalah standar internasional atas sistem penamaan dan penomoran yang digunakan untuk klasifikasi produk perdagangan dan turunannya. Sebagai salah satu anggota WCO, Indonesia telah menerbitkan Buku Tarif Kepabeanan Indonesia 2012 (BTKI 2012) yang digunakan sebagai referensi resmi dalam pengklasifikasian barang di Indonesia. BTKI 2012 dibuat dengan mengacu pada Harmonized System yang diterbitkan oleh WCO.

B. Secara lebih luas, klasifikasi barang dengan menggunakan harmonized system memiliki tujuan sebagai berikut:

  1. Memberikan keseragaman dalam daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis, untuk penetapan Tarif Pabean.
  2. Memudahkan pengumpulan, pembuatan dan analisis statistik perdagangan.
  3. Memberikan suatu sistem Internasional untuk pemberian kode, penjelasan dan penggolongan barang untuk tujuan perdagangan.

C. Bagaimana sih cara mengklasifikasikan barang?
Pada saat anda mengimpor suatu barang, dan anda ingin mengetahui tarif bea masuk dan pajak dalam rangka impor yang harus dibayar, anda dapat melakukannya dengan mengikuti langkah-langkah berikut:

  1. Kenali karakteristik utama dari barang yang akan diklasifikasikan, sebagai contoh apakah barang termasuk dalam kelompok binatang hidup, produk mineral, barang dari tekstil, logam, barang dari logam, mesin dan lain sebagainya, hal ini dibutuhkan untuk menentukan ke dalam bagian dan bab mana barang tersebut dapat diklasifikasikan.
  2. Setelah barang ditentukan masuk ke dalam suatu bab, selanjutnya baca dan perhatikan baik-baik catatan yang mengatur bagian dan bab yang berkaitan.
  3. Apabila ada catatan yang mengeluarkan barang tersebut dari bab atau bagian yang telah kita kita pilih, ikuti petunjuk dari catatan tersebut. Terkadang catatan bagian atau catatan bab mengarahkan agar barang tertentu dimasukkan ke dalam bab lain yang lebih sesuai.
  4. Buka bab sebagaimana ditunjuk oleh catatan sebagaimana dimaksud pada butir 3, kemudian baca dan perhatikan kembali catatan yang ada pada bagian dan bab yang baru. Pada tahap ini, biasanya kita sudah mempunyai gambaran umum apakah barang tersebut diklasifikasikan di bab tersebut atau di bab lainnya.
  5. Setelah menemukan satu bab yang paling sesuai berdasarkan kajian di atas, lanjutkan dengan menelusuri pos-pos yang mungkin mencakup barang yang sedang diklasifikasikan dalam bab tersebut. Pada tahap ini kadang-kadang kita sudah dapat menemukan pos yang mencakup barang tersebut dengan rinci. Bila sudah kita temukan satu pos yang tepat, maka langkah selanjutnya tinggal menentukan sub-pos dan pos tarif yang sesuai.
  6. Dalam membandingkan pos-pos, sub-sub pos, atau pos-pos tarif, harus selalu diingat bahwa yang dibandingkan adalah pos-pos, sub-sub pos, atau pos-pos tarif yang setara (perhatikan takiknya).
  7. Apabila sudah dipilih satu pos tarif yang benar-benar sesuai dengan uraian barang, langkah selanjutnya adalah melihat pembebanan tarif BM, PPN, PPnBM. Anda dapat melihat portal INSW untuk melihat update pembebanan tarif BM, PPN, PpnBM dan juga peraturan-peraturan dari instansi terkait yang mengatur tentang importasi barang tersebut.

D. Bagaimana cara menghitung Bea Masuk dan Pajak Dalam Rangka Impor?
Adapun Bea Masuk yang harus dibayar dihitung dengan cara sebagai berikut:

Bea Masuk = Tarif BM x Nilai Pabean

Tarif Bea Masuk dapat di lihat pada kolom Bea Masuk di BTKI atau portal INSW.
* Nilai Pabean terdiri dari harga barang + biaya assuransi + biaya pengangkutan.

E. Pajak dalam rangka impor terdiri dari : PPN, Pph Pasal 22, dan untuk barang yang termasuk kategori barang mewah akan dikenakan tambahan berupa PpnBM. Perhitungan pajak dalam rangka impor dapat dihitung dengan cara sebagai berikut:

PPN = Tarif PPN x (Nilai Pabean + Bea Masuk)

Tarif PPN barang impor dapat dilihat pada kolom PPN di BTKI atau portal INSW.

PpnBM = Tarif PpnBM x (Nilai Pabean + Bea Masuk)

Tarif PpnBM barang impor dapat dilihat pada kolom Ppn BM BTKI atau portal INSW.

Pph Pasal22 = Tarif Pph pasal 22 x (Nilai Pabean + Bea Masuk)

E. Adapun tarif pph pasal 22 impor adalah sebagai berikut:

  • PPh Pasal 22 (impor) dikenakan 2,5% terhadap Wajib Pajak penerima barang yang memiliki Angka Pengenal Importir (API);
  • PPh Pasal 22 (impor) dikenakan 7,5% terhadap Wajib Pajak penerima barang yang memiliki dan dapat menunjukkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);
  • PPh Pasal 22 (impor) dikenakan 15% terhadap Wajib Pajak penerima barang yang tidak memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).

V. Pemberian Kode Barang

Nomor Identifikasi Barang (Penomoran Barang) digunakan untuk mengidentifikasi barang-barang secara unik yang Anda muat di dalam daftar persediaan barang (inventory). Beberapa perusahaan menyebutnya “part number”, “nomor model”, “kode produk”, “kode barang”, “kode item”, dan lain sebagainya. Tapi bagaimanapun Anda menyebutnya, penomoran barang sangat penting bagi Anda dan untuk sistem inventori barang yang Anda pakai. Apabila Anda ataupun sistem Anda tidak mampu mengidentifikasi barang secara unik, Anda tidak akan dapat memperhitungkan aktivitas dan keberadaan dalam inventory Anda secara efektif. Penomoran barang juga berfungsi sebagai singkatan untuk deskripsi barang. Alih-alih memasukkan keseluruhan nama atau keterangan untuk barang tertentu, Anda dapat menggunakan penomoran barang yang jauh lebih pendek. Hal ini akan mempercepat proses entri data dan pengelolaan inventory (stock barang).

Produk ritel dan perusahaan-perusahaan besar seringkali menggunakan penomoran yang panjang dan rumit untuk nomor barang mereka. Ini adalah pilihan yang tepat jika Anda mengoperasikan sebuah gudang atau operasi ritel yang kompleks. Tetapi jika Anda ingin membuat sistem yang lebih mudah untuk dipakai dan menggunakan nomor item Anda sendiri, berikut adalah beberapa rekomendasi dari kami.

Penomoran Kode Barang Yang Baik Akan Membuat Hidup Anda Jauh Lebih Mudah!

Tips Membuat Skema Penomoran Barang :

  • Jangan pernah memulai penomoran barang dengan angka nol, kecuali jika Anda dipaksa untuk melakukannya di luar kendali Anda. Percayalah pada kami untuk hal ini.
  • Hindarilah penggunaan huruf yang dapat membuat penomoran barang Anda menjadi kacau bila dipasangkan dengan angka, seperti huruf O , I, dan L.
  • JANGAN menggunakan nomor atau bagian nomor seri dari barang produsen untuk penomoran barang Anda. Angka-angka ini biasanya terlalu panjang dan tidak jelas. Selain itu, jika Anda berganti pemasok (vendor), atau produsen mengubah penomoran barang mereka, hal ini akan merusak pengaturan penomoran Anda.
  • Anda boleh membuat penomoran barang yang pendek, tetapi tidak terlalu pendek sehingga bisa menyebabkan kekeliruan terhadap nomor lainnya (misalnya jumlah barang, dll ). Sekitar 4 – 8 karakter biasanya cukup untuk membuat penomoran bagi sebagian besar perusahaan.
  • Jangan memuat nomor barang dengan makna – jangan mencoba untuk menggunakan penomoran barang untuk menggambarkan produk Anda . Hal ini hanya akan membuat nomor Anda menjadi lebih panjang dan lebih rumit. Cukup simpan informasi ini untuk deskripsi barang.
  • Pertimbangkan untuk menggunakan beberapa huruf. Huruf-huruf akan sangat membantu dalam membedakan penomoran barang Anda dari penomoran lain. Huruf akan meningkatkan jumlah nomor item yang dapat Anda miliki, sementara Anda tetap menjaga penomoran barang menjadi sesingkat mungkin.
  • Menggunakan beberapa huruf pada awal deskripsi barang Anda atau di awal penomoran barang Anda akan memudahkan Anda dalam mencari barang di dalam daftar pengambilan barang. Misalnya, jika Anda membuat penomoran barang untuk “Saus”, Anda dapat membuat penomoran “SAU101” untuk saus cokelat , “SAU102” untuk saus karamel, dst.
  • Hindari memuat deskripsi barang dengan informasi lebih dari yang benar-benar dibutuhkan. Informasi seperti nama penjual, produsen, negara asal, tanggal kadaluwarsa, dan sebagainya termasuk dalam “rincian barang” atau “rincian transaksi”, yang mana detail semacam ini dapat digunakan secara lebih efektif .
  • Jangan gunakan simbol yang mungkin akan membingungkan orang yang membacanya ataupun software yang Anda gunakan. Misalnya, menggunakan koma di nomor item Anda mungkin membuatnya terlihat seperti kuantitas atau harga. Menggunakan simbol “/” dapat mengakibatkan Microsoft Excel memformat penomoran barang Anda sebagai tanggal. Simbol seperti “<”, “>”, dan “*” dapat memiliki konsekuensi yang tidak diinginkan ketika memindahkan data antara program pengolahan inventaris dan program spreadsheet Anda. Cobalah untuk menjaga penomoran barang Anda sesederhana dan seefektif mungkin.
Sumber :
//lowonganmadiun.com/profil-karier/sekilas-tentang-merchandiser-display-md
//www.sentrarak.com/jenis-teknik-display-barang-di-toko-minimarket/
//jurusanpemasaran.blogspot.co.id/2015/12/klasifikasipengelompokan-barang-dalam.html#ixzz4xC0IFqBT
//pakgiman.com/hs/
//www.pajak.net/blog/444/membuat-penomoran-kode-barang-yang-baik-untuk-sistem-persediaan-barang-inventory/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

www.000webhost.com